Juni 04, 2012

Berdamai Dengan Rutinitas

Ternyata hampir dua tahun lamanya blog ini tidak tersentuh oleh sesuatu yang baru. Boleh dibilang oleh orang-orang atau sahabat blog terdekatku dengan istilah "mati suri". Seperti biasa dan klise, kegiatan mengisi di blog ini tersandera oleh rutinitas yang membelenggu.
Beberapa tahun yang lalu saat sang rutinitas tidak terlalu menguasai. Ide-ide segar mengalir tiada henti untuk sekedar berbagi dengan sobat atau pembaca setia blog ini. Namun ketika berbagai kegiatan, acara, pekerjaan atau apapun namanya tidak bisa berkompromi dengan kegiatan nge-blog, maka sesuatunya menjadi blank ketika ingin mencurahkan atau sekadar share berbagai pengalaman lewat tulisan ringan.
Ketika iseng ingin membuka blog ini setelah senyap untuk sesaat. kaget dan terhenyak melihat proses loading yang mencurigakan, dan benar saja ternyata blog-ku tidak bisa sepenuhnya terbuka bahkan ketika terbuka penuh yang terpampang malahan situs iklan atau promosi !!!, panik sesaat namun perlahan mulai menyadari mungkin ada beberapa widget yang tidak ter-update. Setelah membuka blog editor dan mulai menelusuri widget yang pernah dipasang dengan cara menghapus satu persatu, maka normallah tampilan blog ini. Lega sekali rasanya, padahal pikiran dan prasangka yang merasuk mengenai blog ini sudah bermacam-macam.
Hikmah yang di dapat adalah betapa pentingnya sesekali meluangkan waktu sejenak untuk sekedar meng-update atau me-refresh blog walaupun cuma sesaat. Mudah-mudahan setelah peristiwa ini, rutinitas yang memang harus dijalani bisa berdamai walaupun hanya sesaat.

Januari 04, 2010

Masih Perlukah Pilkada di Indonesia ?

Agenda politik di Indonesia memasuki tahun 2010, kembali akan melaksanakan pemilihan kepala daerah langsung yang akan memilih Bupati dan Gubernur di beberapa wilayah Republik Indonesia. Setelah selama sepanjang tahun 2009 di sibukkan oleh beberapa agenda politik nasional yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden masa bakti 2009 sampai dengan 2014.

Pilkadasung atau pemilihan kepala daerah langsung di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini adalah hal yang biasa dilakukan oleh masing-masing pemerintah daerah, penyelenggaranya sendiri yaitu KPUD maupun masyarakat daerah sebagai obyeknya. Dalam hakikatnya bahwa Pilkada itu sendiri dilakukan untuk memilih pasangan pemimpin yang legitimatif dan kredibel di masing-masing daerah provinsi, kabupaten dan kota di seluruh wilayah Indonesia, sesuai dengan Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah.

Sejauh ini, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pengamatan penulis pribadi tentang pelaksanaan pilkada di Indonesia dari perspektif penyelenggaraannya adalah masih jauh dari kata memuaskan (bila tidak ingin dikatakan buruk). Kenapa bisa?, dilihat dari masih amburadulnya DPT (daftar pemilih tetap), sengketa pilkada dan masih banyaknya biaya yang tidak efisien. Akan tetapi janganlah hal seperti itu dijadikan alasan untuk tidak melaksanakan hajatan demokrasi daerah lima tahunan tersebut. Banyak statement yang dibuat oleh para tokoh bangsa ini yang ingin meniadakan pilkada disetiap daerah di Indonesia, membuang-buang uang, menguras energi, menimbulkan konflik horizontal dan masih banyak alasan lain lagi. Memang rasional, namun hal-hal seperti itu tidak semuanya ada di tiap daerah yang melakukan pilkada, jadi janganlah ”gara-gara nila setitik, hancur pula susu sebelanga”, hanya gara-gara satu datau ua daerah yang bermasalah, daerah yang lain menerima getahnya.

Dalam konteks kehidupan berdemokrasi saat ini, khususnya di Indonesia yang konon katanya adalah negara demokrasi terbesar di dunia. Masalah-masalah yang ada seperti diatas haruslah disikapi dengan arif. Karena untuk bangsa ini yang masih belajar dalam melaksanakan demokrasi, implikasi dari hal tersebut adalah lazim. Yang perlu disikapi adalah segera evaluasi dan lakukan upaya yang terbaik untuk pelaksanaan ke depannya.

Semoga tujuan mulia yang dicapai dari  dilaksanakan pemilihan kepala daerah langsung ini dapat langsung tepat mengenai sasarannya, yakni dapat terpilihnya sepasang pemimpin daerah yang mampu mengakomodir keinginan rakyatnya dan dapat segera menuju percepatan pembangunan  segala bidang di setiap daerah yang akan dipimpinnya. 

Desember 29, 2009

Renungan Di Penghujung Tahun


Tak terasa sudah, hampir satu tahun lamanya kita mengarungi tahun 2009 ini. Banyak kejadian dan peristiwa yang kemungkinan terjadi mengiringi perjalanan hidup di tahun ini. Senang, sedih, suka dan duka cita mewarnai kehidupan. Ada yang mendapat keberuntungan dan kesuksesan serta banyak pula yang mendapat kemalangan dan kegagalan. Selama bumi ini masih berputar pada porosnya, kehidupan ini pun akan terus berputar mengikuti alurnya. Hendaknya kita juga sebagai manusia pun dapat mengambil landasan masa lalu untuk menjadi pijakan di masa yang akan datang dalam mengarungi kehidupan.
Apa yang sudah kita lakukan sepanjang tahun ini?, apa saja yang telah kita dapat di tahun ini?. Kedua pertanyaan tersebut adalah hal biasa yang selalu kita renungkan untuk menjadi refleksi kehidupan di tahun selanjutnya.
Sobat, kalau Anda ingin melakukan renungan di penghujung tahun ini, saya anjurkan untuk merenungkan satu hal saja: ”Seberapa besar tingkat kepedulian sobat kepada sesama?” Dari skala 1 (sangat buruk) sampai dengan 5 (sangat baik), dimanakah posisi sobat? Jawabannya tak perlu  dikemukakan, tapi cukup disimpan untuk diri sobat sendiri.
Mengapa saya menganjurkan sobat melakukan hal ini? Ini tak lain untuk kepentingan sobat sendiri. Selama  sobat masih berkutat dengan diri sendiri, selama itu pula jiwa tak akan pernah tumbuh. Kita hanya akan mengalami transformasi yang luar biasa begitu kita mulai memikirkan orang lain. Seorang pengarang, besar Joseph Campbell, mengatakan, ”Pada saat kita berhenti berpikir tentang diri kita sendiri, kita sebenarnya tengah mengalami perubahan hati nurani yang sungguh heroik.”

Hal ini mudah diucapkan tetapi amat sulit dilakukan. Para politisi kita amat royal melontarkan kata-kata ”demi kepentingan rakyat.” Seorang pejabat yang mengaku paling dekat dengan wong cilik kenyataannya malah menyakiti hati rakyat dengan tanpa malu-malu menghadiahkan dirinya sendiri rumah senilai 20 miliar. Para politisi lain juga tanpa malu -malu berlomba-lomba meluncurkan buku biografi politik yang dipenuhi kata-kata ”demi kepentingan rakyat.” Buku-buku biografi semacam ini sebenarnya merupakan ”pelecehan intelektual” belaka. Kenyataannya, amat sulit bagi kita menemukan kontribusi mereka bagi orang banyak.

Memikirkan orang lain memang sangat sulit dilakukan, apalagi di zaman sekarang. Setiap hari kita disibukkan dengan pekerjaan yang tak habis-habisnya. Namun sekadar memperhatikan diri sendiri akan menghasilkan kesulitan yang cukup serius dalam jangka panjang. Sobat akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan spiritual. Banyak orang yang beranggapan bahwa hal ini adalah kewajiban. Mereka salah besar! Memperhatikan orang lain adalah kebutuhan untuk menikmati hidup yang penuh makna. Memperhatikan orang lain adalah cara terbaik untuk mencapai hakikat kemanusiaan yang sejati.

Seorang filsuf terkemuka pernah mengatakan, ”Manusia dilahirkan dalam kondisi telanjang, dan ketika meninggal ia dibungkus kain kafan. Apakah hanya itu keuntungan yang ia dapatkan sepanjang hidupnya?” Sayangnya dunia kita sekarang telah begitu materialistisnya, sehingga banyak orang beranggapan bahwa perhatian tersebut bisa digantikan dengan uang. Padahal walaupun uang memang penting, ia tak akan pernah dapat menggantikan perhatian, pengertian, kehadiran dan kasih sayang.

Betapa banyak contoh yang bisa kita ambil dari kehidupan kita sehari-hari. Banyak anak yang tumbuh tanpa perhatian yang semestinya dari orang tua mereka. Banyak orang tua yang berdalih bahwa quality time jauh lebih penting ketimbang quantity time. Padahal, kasih sayang dan pengertian hanya akan terbina melalui proses yang perlahan-lahan dan membutuhkan banyak waktu. Betapa banyak para profesional yang cukup puas dengan memberikan sejumlah uang kepada orang tua mereka tanpa pernah mau tahu mengenai keadaan mereka yang sesungguhnya. Orang-orang seperti ini telah salah kaprah dalam memahami hidup seolah-olah segala sesuatunya bisa dibeli dengan uang.

Mudah-mudahan saya sendiri dan sobat sekalian dapat memahami arti renungan dalam sebuah refleksi di penghujung tahun. Semoga dapat bermanfaat dan menjadi landasan untuk berpijak bagi kita semua ditahun-tahun mendatang untuk menjadi lebih baik lagi. Tak lupa saya sebagai pengelola blog ini mengucapkan " Selamat Tahun Baru 2010 bagi semua sobat pembaca dimanapun berada "
 

Sego Pecel 75 Copyright © 2009 Community is Designed by Bie