Januari 04, 2010

Masih Perlukah Pilkada di Indonesia ?

Agenda politik di Indonesia memasuki tahun 2010, kembali akan melaksanakan pemilihan kepala daerah langsung yang akan memilih Bupati dan Gubernur di beberapa wilayah Republik Indonesia. Setelah selama sepanjang tahun 2009 di sibukkan oleh beberapa agenda politik nasional yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden masa bakti 2009 sampai dengan 2014.

Pilkadasung atau pemilihan kepala daerah langsung di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini adalah hal yang biasa dilakukan oleh masing-masing pemerintah daerah, penyelenggaranya sendiri yaitu KPUD maupun masyarakat daerah sebagai obyeknya. Dalam hakikatnya bahwa Pilkada itu sendiri dilakukan untuk memilih pasangan pemimpin yang legitimatif dan kredibel di masing-masing daerah provinsi, kabupaten dan kota di seluruh wilayah Indonesia, sesuai dengan Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah.

Sejauh ini, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pengamatan penulis pribadi tentang pelaksanaan pilkada di Indonesia dari perspektif penyelenggaraannya adalah masih jauh dari kata memuaskan (bila tidak ingin dikatakan buruk). Kenapa bisa?, dilihat dari masih amburadulnya DPT (daftar pemilih tetap), sengketa pilkada dan masih banyaknya biaya yang tidak efisien. Akan tetapi janganlah hal seperti itu dijadikan alasan untuk tidak melaksanakan hajatan demokrasi daerah lima tahunan tersebut. Banyak statement yang dibuat oleh para tokoh bangsa ini yang ingin meniadakan pilkada disetiap daerah di Indonesia, membuang-buang uang, menguras energi, menimbulkan konflik horizontal dan masih banyak alasan lain lagi. Memang rasional, namun hal-hal seperti itu tidak semuanya ada di tiap daerah yang melakukan pilkada, jadi janganlah ”gara-gara nila setitik, hancur pula susu sebelanga”, hanya gara-gara satu datau ua daerah yang bermasalah, daerah yang lain menerima getahnya.

Dalam konteks kehidupan berdemokrasi saat ini, khususnya di Indonesia yang konon katanya adalah negara demokrasi terbesar di dunia. Masalah-masalah yang ada seperti diatas haruslah disikapi dengan arif. Karena untuk bangsa ini yang masih belajar dalam melaksanakan demokrasi, implikasi dari hal tersebut adalah lazim. Yang perlu disikapi adalah segera evaluasi dan lakukan upaya yang terbaik untuk pelaksanaan ke depannya.

Semoga tujuan mulia yang dicapai dari  dilaksanakan pemilihan kepala daerah langsung ini dapat langsung tepat mengenai sasarannya, yakni dapat terpilihnya sepasang pemimpin daerah yang mampu mengakomodir keinginan rakyatnya dan dapat segera menuju percepatan pembangunan  segala bidang di setiap daerah yang akan dipimpinnya. 

Reaksi:

32 komentar:

klo diliat dri yg sudah2 sih...
gag perlu keknya....
klo nanti jg akhirnya bakalan bgtu lagi hihihihi....

kagag tau deh...:D

salam sobat
wah menurut saya masih perlu PILKADA di INDONESIA mas,,
demi keadilan bersama kan...
kalau ngga ada,,nanti pada rebutan ingin jadi pemimpin daerah semua.

wah
bingung ma
oenuh konspirasi
samep bingung mana yg bener

@ Ina : sebenarnya perlu gak perlu sih, kalo gak perlu nantinya pilpres lama kelamaan bisa gak ada dong...hehee, makasih ya
@ mbak Nura : seburuk2nya pilkada tentunya msh ada celah utk diperbaiki, thanks ya mbak...
@ mas Doyok : wah aku juga bingung mas, mari pegangan bareng mas...hehee, thanks mas Doy...

benar itu menurut saya Pilkada harus tetap di jalankan supaya rakyat bisa memilih yang terbaik buat daerahnya^^

salam blogger:)

Kalo menurut aku gak perlu sie...buang2 duit, mending dananya di pake buat kemajuan rakyat Indonesia

@ Local Download : setuju bro, asalkan tetap dg aturan maennya..., trims
@ Osi : wah ongkos demokrasi memang mahal sobat, thanks...

TIDAK PERLU!!!! (jawabnya sih maunya singkat gitu aja utk menegaskan tidak ada kompromi dengan pilkada! Habis skrg yg pilih adalah rakyat yg tidak tahu apa2 ttg kualitas pimpinan, udah gitu pake berantem lagi! Apalagi klo calonnya artis, udah deh tuh rame2 nyoblos! Model demokrasi ala reformasi yang bukan mengadopsi demokrasi barat tp demokrasi hutan!!! siapa yang banyak dan kuat itu yang menang!!!!!

@ mas Aryo : jd inget kata alm. Gusdur bahwa Demokrasi di Indonesia adalah demokrasi semu yg kebablasan, makasih mas....

brow ane bukan orang politik jadi klo menurut ane sich gak usah siapapun yang menang yang merubah kaum rakyat miskin yg ada cm ngabisin uang negara aja tp hasilnya gak ada

pilkada adalah ikhtiar untuk sebuah perubahan yang (mudah2an) lebih baik. Tidak arif menghilangkan suatu ikhtiar tanpa mengupayakan ikhtiar lain yang lebih baik. Lebih baik gagal daripada tidak berikhtiar sama sekali

@ Moenas : sekarang kalo berani maling uang negara jeruji besi dah nunggu bro...
@ mas Ridwan : Setuju sekali sobat..., thanks

tentu saja perlu.bukankah negara kita adalah negara demokrasi? apa jadinya jika tanpa pilkada. yang terpenting adalah yang dipimpin nantinya berjiwa besar menerima hasil pilkada, dan yang memimpin ga' sewenang-wenang gitu

negara indonesia sudah menerapkan demokrasi yang salah kaprah dan mengartikan setiap pemimpin haru sdipilih semuanya lewat pemilihan raya.
anggaran untuk pilkada sangat besar, bahkan bisa separuh dari PAD sebuah daerah...padahal menurut ryas rasyid, setidaknya biaya pilkada minimal 1/5 dari anggaran belanja daerah..
menurut saya, pilkada hanya pada daerah tingkat 2. sementara gubernur baiknya dipilih DPRD saja, mengingat begitu besarnya biaya pilkada. disamping itu, otonomi yang sebenarnya itu kan di TIngkat 2. smentara gubernur hanya dekonsentrasi dari pusat.

salam kenal......
sory kepanjangan

pilkada hanya bikin rusuh, lagipula memakan banyak anggaran..
lagipula proses kampanyenya itu looh..
beda untuk pilpres itu perlu rakyat yang milih langsung

@ Liudin : yg penting pelaksanaannya jgn salah ya sob..., thanks..
@ Berry Devanda : setuju mas, salam kenal juga ya...
@ mbak Nita : berarti ada kemunduran dlm sistem demokrasi, kalau pilkada tdk dilaksanakan, thanks mbak...

masih perlu mas dilaksanakan pilkada trsbt

menurut saya masih perlu karena..
supaya tetep dipilih langsung

@ Rumah Curhat : sipp sobat, makasih ya..
@ Elyas : yg penting pelaksanaannya harus lebih di perbaiki..., makasih...

tapi sejak maraknya pilkada di era otonomi daerah ini... sebelnya makin banyak saja artis (yang hanya modal tampang dan uang) yang ikut meramaikan pilkada.
sediiih... apalagi masyarakat juga kok kayaknya lebih milih yang artis.

masih mempertanyakan kualitasnya nih

saya kira itu bentuk demokratis ya...gimana klo gak ada pilkada ya lain lagi klo ada penunjukanya langsung dari presiden he..he..

PILKADA masih perlu di indonesia..gk usah dipetanyakan lagi.. tinggal cara pilkada-nya aj yg kayak gimana...

btw

masih bermain 11.com kah ?... kekekekk :D

Model demokrasi ala reformasi yang bukan mengadopsi demokrasi barat tp demokrasi hutan!!! siapa yang banyak dan kuat itu yang menang!

pilkada di Indonesia menurut saya masih diperlukan, kalau tidak dengan jalan itu belum tentu akan damai

assalamualaikum
ini kunjungan kesekian kali ke blog sahabat :)
dan menyimak terus update postingan yang semakin menarik
sekaligus memberi info bahwa kangmusa telah membuat ebook baru
"Blog Monetization Options" yang bisa diunduh disini
terima kasih, saya tunggu kunjungan Anda di kangmusa.com
salam hangat
kangmusa

With the current difficult economic situation, which is a warning to consumers on a budget and more important than ever. However, they believe that all consumers in hand to make purchasing decisions. A growing number of studies say otherwise.

“We’re much more tempted by external factors in the purchase, when we think we are,” said Martin Lindstrom, a marketing expert and author of Buyology: Truths and lies about why they buy. ”Most of the roof of the world’s consumers feel when they enter a store, it is less likely to be vigilant.”

Hahhaha sego pecel mas marai kangen mediun...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

sangat perlu bgt, asal di landasi dengan kejujuran dan keadilan..!!